Jumat, 11 Mei 2012

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
NURUL ULYANI


Pendahuluan

Perkembangan individu merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak factor yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu terhadap arah dan laju perkembangan anak tersebut.
Banyaknya aspek yang dibicarakan dalam membahas masalah perkembangan menyebabkan banyaknya istilah dan konsep yang digunakan. Begitu pula banyaknya pandangan dan teori dalam menjelaskan fenomena-fenomena perkembangan anak membuat semakin kayanya pengetahuan tentang perkembangan anak. Gambaran pembahasan tentang perkembangan di atas diawali dengan perlunya memahami konsep-konsep perkembangan yang dilanjutkan dengan pembahasan aspekas
Pengertian Perkembangan
Perubahan merupakan hal yang melekat dalam perkembangan. E.B. Hurlock (Istiwidayanti dan Soejarwo, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan atau development merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Ini berarti, perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kualitatif disebut juga ”pertumbuhan” merupakan buah dari perubahan aspek fisik seperti penambahan tinggi, berat dan proporsi badan seseorang. Perubahan kuantitatif meliputi peubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap, dll. Selain perubahan ke arah penambahan atau peningkatan, ada juga yang mengalami pengurangan seperti gejala lupa dan pikun. Jadi perkembangan bersifat dinamis dan tidak pernah statis.
Terjadinya dinamika dalam perkembangan disebabkan adanya ”kematangan dan pengalaman” yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi/realisasi diri. Kematangan merupakan faktor internal (dari dalam) yang dibawa setiap individu sejak lahir, seperti ciri khas, sifat, potensi dan bakat. Pengalaman merupakan intervensi faktor eksternal (dari luar) terutama lingkungan sosial budaya di sekitar individu. Kedua faktor (kematangan dan pengalaman) ini secara stimultan mempengaruhi perkembangan seseorang. Seseorang anak yang memiliki bakat musik dan didukung oleh pengalaman dalam lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan bakatnya seperti menyediakan dan memberi les musik, akan berkembang terus menerus sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, streotipe dan nilai-nilai budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang.
Mengilustrasikan adanya proses perubahan yang dialami oleh anak manusia yang disebut dengan perkembangan (development). Perkembangan adalah pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat. Namun tidak setiap perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan.
Dengan belajar, perilaku individu juga bisa berubah. Begitupun karena factor peristiwa atau pengaruh penggunaan obat tertentu, individu juga bisa berubah.Untuk itu perlu ada suatu penjelasan lebih rinci tentang perubahan yang dimaksud sebagai perkembangan.
Pertama, perubahan dalam arti perkembangan terutama berakar pada unsur biologis. Pengalaman-pengalaman atau aktivitas-aktivitas khusus anak dapat menimbulkan perubahan pada diri yang bersangkutan. Misalnya, seorang anak yang berlatih menari menjadi terampil menari; anak yang belajar matematika atau berhitung menjadi mahir dalam mengerjakan soal-soal hitungan. Perubahan-perubahan semacam itu bukanmerupakan perkembangan, melainkan lebih merupakan perubahan dalam arti belajar, yakni perubahan yang lebih singkat dan merupakan fungsi langsung dari pengalaman-pengalaman khusus yang diupayakan. Perubahan dalam arti perkembangan lebih berkaitan dengan fungsi waktu dan kematangan biologis sehingga terjadi dalam periode yang lebih lama dan bersifat umum, tidak terkait dengan peristiwa atau pengalaman khusus tertentu.
Kedua, perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi atau perubahan fisik maupun psikis. Perubahan dalam struktur lajimnya merujuk kepada perubahan fisik baik dalam hal ukuran maupun bentuknya (seperti perubahan lengan, kaki, otot, jaringan syaraf, atau bagian-bagian tubuh lainnya), sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada perubahan dalam hal aktivitas yang secara inheren terdapat dalam struktur fisik tersebut (seperti kelenturan otot, keterampilan bergerak, kemampuan berfikir, reaksireaksi emosional, dan perubahan-perubahan sejenis lainnya). Dengan kata lain, perubahan struktur mengacu kepada perubahan wujud jasadnya, sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada perubahan aspek mental atau aktivitas yang ditimbulkan sehubungan dengan adanya perubahan dalam jasad tersebut.
Ketiga, perubahan dalam arti perkembangan bersifat terpola, teratur, terorganisasi, dan dapat diprediksi. Ini berarti bahwa secara normal, perkembangan individu mengikuti pola-pola tertentu yang sudah dapat diketahui dan diperkirakan. Misalnya, seorang anak akan bisa duduk setelah bisa menelungkup, akan merangkak setelah duduk, dan akan berjalan setelah merangkak.
Keempat, perkembangan dapat bersifat unik bagi setiap individu. Santrock & Yussen (1992: 17) menyatakan bahwa: “each of us develops in certain ways like all other individual, like some other individuals, and like no other individuals”. Masing-masing kita berkembang dalam cara-cara tertentu seperti semua individu yang lain, seperti beberapa individu yang lain dan seperti tak ada individu yang lain. Di samping adanya kesamaankesamaan umumdalam pola-pola perkembangan yang dialami oleh setiap individu, terjadinya variasi individual dalam perkembangan anak bisa terjadi pada setiap saat. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsure yang saling berpengaruh satu sama lain.
Kelima, perubahan dalam arti perkembangan terjadi secara bertahap dalam jangka waktu yang relative lama. Maksudnya bahwa perubahan dalam arti perkembangan bukan merupakan perubahan yang sifatnya sesaat, melainkan terjadi dalam suatu proses yang berlangsung secara berkelanjutan dalam waktu yang relative lama.
Keenam, perubahan dalam arti perkembangan dapat berlangsung sepanjang hayat dari mulai sejak masa konsepsi hingga meninggal dunia. Perkembangan tidak hanya terbatas sampai dengan masa remaja, melainkan dapat berlanjut terus hingga seseorang meninggal dunia. Ini juga berarti bahwa perubahan dalam arti perkembangan tidak hanya mencakup proses pertumbuhan, pematangan, dan penyempurnaan, melainkan juga mencakup proses penurunan dan perusakan. Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dapat didefinisikan sebagai pola perubahan organism (individu) baik dalam struktur maupun fungsi (fisik maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan terorganisasi serta berlangsung sepanjang hayat. Di samping istilah perkembangan, ada istilah lain yang sering dipertukarkan penggunaannya, yaitu istilah pertumbuhan. Istilah pertumbuhan juga mengandung arti sebagai pola perubahan yang dialami oleh individu. Dalam kenyataannya, kedua proses perubahan ini –perkembangan dan pertumbuhan—memang sulit dipisahkan satu sama lain.
Namun untuk kepentingan penjelasan dua istilah tersebut dapat dibedakan. Istilah pertumbuhan dimaksudkan sebagai perubahan dalam aspek jasmaniah seperti berubahnya struktur tulang, tinggi dan berat badan, proporsi badan, semakin sempurnanya jaringan syaraf, dan sejenisnya. Dengan kata lain, pengertian pertumbuhan itu lebih bersifat kuantitatif dan terbatas pada pola perubahan fisik yang dialami individu sebagai hasil dari proses pematangan. Dalam arti luas, istilah pertumbuhan dapat mencakup perubahan secara psikis kalau perubahan tersebut berupa munculnya sesuatu fungsi yang baru seperti munculnya kemampuan berpikir simbolik, munculnya kemampuan berpikir abstrak.
Pengertian Belajar
Cukup banyak para ahli yang merumuskan pengertian belajar. Slamento (1995) merumuskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkahlaku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Sementara Winkel (1989) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses kegiatan mental pada diri seseorang yang berlangsung dalam interaksi aktif individu dengan lingkungannya. Sehingga menghasilkan perubahan yang relatif menetap/  bertahan dalam kemampuan ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik, yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi secara sadar, bersifat kontinu, relatif menetap, dan mempunyai tujuan terarah pada kemajuan yang progresif.
Belajar abad 21, seperti yang dikemukakan Delors (Unesco, 1996), didasarkan pada konsep belajar sepanjang hayat (life long learning) dan belajar begaimana belajar (learning how to learn). Konsep ini bertumpu pada empat pilar pembelajaran yaitu : (1) learning to know (belajar mengetahui) dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan kesempatan untuk bekerja melalui kemampuan belajar bagaimana caranya belajar sehingga diperoleh keuntungan dari peluang-peluang pendidikan sepanjang hayat yang tersedia; (2) learning to do (belajar berbuat) bukan hanya untuk memperoleh suatu keterampilan kerja tetapi juga untuk mendapatkan kompetensi berkenaan dengan bekerja dalam kelompok dan berbagai kondisi sosial yang informal; (3) learning to be (belajar menjadi dirinya) dengan lebih menyadari kekuatan dan keterbatasan dirinya, dan terus menerus mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik dan mampu bertindak mandiri, dan membuat pertimbangan berdasarkan tanggung jawab pribadi; (4) learning to live together (belajar hidup bersama) dengan cara mengembangkan pengertian dan kemampuan untuk dapat hidup bersama dan bekerjasama dengan orang lain dalam masyarakat global yang semakin pluralistik atau /majemuk secara damai dan harmonis, yang didasari dengan nilai-nilai demokrasi, perdamaian, hak asasi manusia, dan perkembangan berkelanjutan.

Pengertian Peserta Didik
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangakan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar disekolah (Sinolungan, 1997). Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI.
Peserta Didik merupakan subjek yang menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Penting anda pahami sebagai guru kelas SD bahwa pemahaman dan perlakuan terhadap peserta didiksebagai suatu totalitas atau kesatuan.
Sinolungan (1997) juga mengemukakan, manusia termasuk peserta didik adalah mahluk totalitas ”homo trieka”. Ini berarti manusia termasuk peserta didik merupakan (a) mahluk religius yang menerima dan mengakui kekuasaan Tuhan atas dirinya dan alam lingkungan sekitarnya, (b) mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dan saling mempengaruhi agar berkembang sebagai manusia; serta (c) mahluk individual yang memiliki keunikan (ciri khas, kelebihan, kekurangan, sifat dan kepribadian, dll.), yang membedakan dari individu lain.
Jadi dalam mempelajari dan memperlakuakan peserta didik, termasuk peserta didik usia PAUD atau SD/MI hendaknya dilakukan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Kita harus melihat mereka sebagai suatu kesatuan yang unik, yang terkait satu dengan yang lainnya.trans
Prinsip-prinsip Perkembangan

Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu (masa konsepsi) dan berakhir pada saat kematiannya. Perkembangan individu ini bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat, tetapi bisa juga cepat, hanya berkenaan dengan salah satu aspek ataupun beberapa aspek perkembangan. Perkembangan tiap individu juga tidak selalu seragam, seorang berbeda dengan yang lainnya baik dalam temponya, iramanya maupun kualitasnya.
Dalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut
1. Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi semua aspek. Perkembangan bukan hanya berkenaan dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek. Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas, sedangkan aspek yang lainnya lebih tersembunyi. Perkembangan tersebut juga berlangsung terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu perkembangannya lambat bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain sangat cepat. Jalannya perkembangan individu itu berirama dan irama perkembangan setiap anak tidak selalu sama.
2. Setiap anak memiliki kecepatan (tempo) dan kualitas perkembangan yang berbeda. Seseorang mungkin mempunyai kemampuan berpikir dan membina hubungan social yang sangat tinggi dan tempo perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedang dalam aspek lainnya seperti keterampilan atau estetika kemampuannya kurang dan perkembangannya lambat. Sebaliknya, ada anak yang ketrampilan dan estetikanya berkembang pesat sedangkan kemampuan berpikir dan hubungan sosialnya agak lambat.
3. Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu. Perkembangan sesuatu segi didahului atau mendahului segi yang lainnya. Anak bisa merangkak sebelum anak bisa berjalan, anak bisa meraban sebelum anak bisa berbicara, dan sebagainya.
4. Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Secara normal perkembangan itu berlangsung sedikit demi sedikit tetapi dalam situasi-situasi tertentu dapat juga terjadi loncatan-loncatan. Sebaliknya dapat juga terjadi kemacetan perkembangan aspek tertentu.
5. Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum, seperti kemampuan memegang dimulai dengan memegang benda besar dengan kedua tangannya, baru kemudian memegang dengan satu tangan tetapi dengan kelima jarinya. Perkembangan berikutnya ditunjukkan dengan anak dapat memegang dengan beberapa jari, dan akhirnnya menggunakan ujung-ujung jarinya. Dalam perkembangan terjadi proses diferensiasi atau penguraian ke hal yang lebih kecil dan terjadi pula proses integrasi. Dalam integrasi ini beberapa kemampuan khusus/kecil itu bergabung membentuk satu kecakapan atau keterampilan.
6. Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase, tetapi karena faktorfaktor khusus, fase tertentu dilewati secara cepat, sehingga nampak ke luar seperti tidak melewati fase tersebut, sedangkan fase lainnya diikuti dengan sangat lambat, sehingga nampak seperti tidak berkembang.
7. Sampai batas-batas tertentu, perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga factor lingkungan. Kondisi yang wajar dari pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang wajar pula. Kekurangwajaran baik yang berlebih atau berkekurangan dari faktor pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang lebih cepat atau lebih lambat
8. Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya. Perkembangan kemampuan sosial berkembang sejajar dengan kemampuan berbahasa, kemampuan motorik sejajar dengan kemampuan pengamatan dan lain sebagainya.
9. Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda dengan wanita. Pada usia 12-13 tahun, anak wanita lebih cepat matang secara social dibandingkan dengan laki-laki. Fisik laki-laki umumnya tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan inteleknya sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan berbahasa dan estetikanya.

Aspek-aspek Perkembangan Anak
Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian individu anak, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Secara umum dapat dibedakan beberapa aspek utama kepribadian individu anak, yaitu aspek (1) kognitif, (2) fisik-motorik, (3) sosio-emosional, (4) bahasa, (5) moral dan (6) keagamaan.
Perkembangan dari tiap aspek kepribadian tidak selalu bersama-sama atau sejajar, perkembangan sesuatu aspek mungkin mendahului atau mungkin juga mengikuti aspek lainnya. Pada awal kehidupan anak, yaitu pada saat dalam kandungan dan tahun-tahun pertama, perkembangan aspek fisik dan motorik sangat menonjol. Selama sembilan bulan dalam kandungan, ukuran fisik bayi berkembang dari seperduaratus milimeter menjadi 50 sentimeter panjangnya. Selama dua tahun pertama, bayi yang tidak berdaya pada awal kelahirannya, telah menjadi anak kecil yang dapat duduk, merangkak, berdiri, bahkan pandai berjalan dan berlari, bisa memegang dan mempermainkan berbagai benda atau alat.
1. Kognitif
Kognitif perkembangannya diawali dengan perkembangan kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah sederhana. Kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat pada masa anak mulai masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun). Berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pada masa sekolah menengah atas (usia 16-17 tahun).
Menurut Piaget, dinamika perkembangan intelektual individu mengikuti dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Struktur kognitif yang dimaksud adalah segala pengetahuan individu yang membentuk pola-pola kognitif tertentu. Jadi struktur kognitif sesungguhnya merupakan kumpulan dari pengalaman dalam kognisi individu.
Ada dua fungsi guru PAUD/SD sekaitan proses asimilasi, yakni meletakkan dasar struktur
kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dan memperkaya struktur kognitif menjadi semakin lengkap dan mendalam. Peletakkan struktur kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dianggap penting sebab pendidikan di PAUD/SD sangat fundamental bagi pemerkayaan dan pendalaman. Sementara itu pemerkayaan dan pendalaman struktur kognitif anak diarahkan kepada perluasan wawasan kognitif mereka.
Ada kalanya individu tidak dapat mengasimilasikan rangsangan atau pengalaman baru yang dihadapinya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Ketidakmampuan ini terjadi karena rangsangan atau pengalaman baru itu sama sekali tidak cocok dengan struktur kognif yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini, individu akan melakukan akomodasi. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan individu dalam situasi ini, yakni (a) membentuk struktur kognitif baru yang cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru.(b) memodifikasi struktur kognitif yang ada sehingga cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru.
Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi terus berlangsung pada diri seseorang.
Dalam perkembangan kognitif, diperlukan keseimbangan antara kedua proses ini. Keseimbangan itu disebut ekuilibrium, yakni pengaturan diri secara mekanis yang perlu untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi.
Piaget membagi proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan karakteristik yang berbeda-beda. Tahapan perkembangan kognitif itu adalah: (a) periode sensori motorik (0;0-2;0), (b) periode praoperasional (2;0-7;0 tahun), (c) periode operasional konkrit (7;0-11 atau 12;0 tahun), dan (d) periode operasional formal (11;0 atau 12;0 – 14 atau15;0).

2. Fisik
Perkembangan fisik anak usia SD mengikuti prinsip-prinsip yang berlaku umum menyangkut: tipe perubahan, pola pertumbuhan fisik dan karakteristik perkembangan serta perbedaan individual. Perubahan dalam proporsi mencakup perubahan tinggi dan berat badan. Pada fase ini pertumbuhan fisik anak tetap berlangsung. Anak menjadi lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat, dan lebih banyak belajar berbagai keterampilan. Perkembangan fisik pada masa ini tergolong lambat tetapi konsisten, sehingga cukup beralasan jika dikenal sebagai masa tenang.

3. Sosial
Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5 tahun). Anak senang bermain bersama teman sebayanya. Hubungan persebayaan ini berjalan terus dan agak pesat terjadi pada masa sekolah (usia 11-12 tahun) dan sangat pesat pada masa remaja (16-18 tahun). Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak berlangsung melalui hubungan antar teman dalam berbagai bentuk permainan.

4. Bahasa
Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi dan suara, berlanjut dengan meraban. Pada awal masa sekolah dasar berkembang kemampuan berbahasa sosial yaitu bahasa untuk memahami perintah, ajakan serta hubungan anak dengan teman-temannya atau orang dewasa. Pada akhir masa sekolah dasar berkembang bahasa pengetahuan. Perkembangan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan intelektual dan sosial. Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan berpikir merupakan suatu proses melihat dan memahami hubungan antar hal. Bahasa juga merupakan suatu alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan komunikasi berlangsung dalam suatu interaksi sosial. Dengan demikian perkembangan kemampuan berbahasa juga berhubungan erat dan saling menunjang dengan perkembangan kemampuan sosial. Perkembangan bahasa yang berjalan pesat pada awal masa sekolah dasar mencapai kesempurnaan pada akhir masa remaja.

5. Afektif
Perkembangan aspek afektif atau perasaan berjalan konstan, kecuali pada masa remaja awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun). Pada masa remaja awal ditandai oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa remaja tengah, rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa akrab bertukar dengan kerenggangan dan permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir yaitu pada usia 18-21 tahun.

6. Moral keagamaan
Aspek moral dan keagamaan juga sudah berkembang sejak anak masih kecil. Peranan
lingkungan terutama lingkungan keluarga sangat dominan bagi perkembangan aspek ini. Pada mulanya anak melakukan perbuatan bermoral atau keagamaan karena meniru, baru kemudian menjadi perbuatan atas prakarsa sendiri. Perbuatan prakarsa sendiripun pada mulanya dilakukan karena adanya kontrol atau pengawasan dari luar, kemudian berkembang karena kontro dari dalam atau dari dirinya sendiri. Tingkatan tertinggi dalam perkembangan moral adalah melakukan sesuatu perbuatan bermoral karena panggilan hati nurani, tanpa perintah, tanpa harapan akan sesuatu imbalan atau pujian. Secara potensial tingkatan moral ini dapat dicapai oleh individu pada akhir masa remaja, tetapi faktor-faktor dalam diri dan lingkungan individu anak sangat berpengaruh terhadap pencapaiannya.

Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan menurut Robert J. Havighurst adalah sebagian tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu, yang merupakan keberhasilan yang dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Kegagalan akan menimbulkan kekecewaan bagi individu, penolakan oleh masyarakat, dan kesulitan untuk tugas perkembangan berikutnya.
Tugas perkembangan pada masa anak adalah:
1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan
2. Pengembangan sikap yang menyeluruh terhadap diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang
3. Belajar berkawan dengan teman sebaya
4. Belajar melakukan peranan sosial sebagai laki-laki dan wanita
5. Belajar menguasai keterampilan intelektual seperti: membaca, menulis, berhitung
6. Pengembangan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
7. Pengembangan moral, nilai dan hati nurani
8. Memiliki kemerdekaan sosial
9. Pengembangan sikap terhadap lembaga dan kelompok social

Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainnya, yaitu fisik, psikis serta emosional, social dan moral. Ada dua alas an mengapa tugas-tugas perkembangan penting bagi pendidikan. Pertama, membantu memperjelas tujuan yang akan dicapai sekolah. Pendidikan dapat dimengerti sebagai usaha masyarakat melalui sekolah, dalam membantu individu mencapai tugas-tugas perkembangan tertentu. Kedua, konsep ini dapat digunakan sebagai pedoman waktu untuk melaksanakan usaha-usaha pendidikan. Bila individu telah mencapai kematangan, siap untuk mencapai tahap tugas tertentu serta sesuai dengan tuntutan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa saat untuk mengajar individu yang bersangkutan telah tiba. Bila mengajarnya pada saat yang tepat maka hasil pengajaran yang optimal dapat dicapai.

Rabu, 09 Mei 2012

SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM


SEJARAH PEMIKIRAN TASAWUF IBN ARABI
OLEH : NURUL ULYANI

A.    Pendahuluan
Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah saw. Namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu –ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid.
Salah seorang sufi besar dalam sejarah perkembangan tasawuf di dunia islam adalah Ibnu ‘Arabi. Pengaruh Ibnu ‘arabi terhadap perkembangan tasawuf, kususnya tasawuf. Gagasan – gagasan kesufian Ibnu ‘Arabi tersebar keseluruh dunia islam dan mendapat pengikut yang takterhitung jumlahnya.  Di Indonesia sendiri, pemikiran Ibnu Arabi juga berpengaruh besar. Hal ini terbukti dengan banyaknya ulama yang membawa karya-karyanya dan mengikuti pemikirannya.
Ibn ‘Arabi adalah seorang sufi dengan pemahaman yang ensiklopedis terhadap khazanah ilmu-ilmu Islam. Hampir dalam setiap bidang keilmuan dibahas oleh Ibn ‘Arabi. Mulai dari tafsir, hadis, fiqih, kalam, tasawuf, dan falsafah. Tidak mengherankan jika kemudian beliau mendapat gelar syaikh al-akbar (‘guru agung”) dan muhyi al-din (“pembangkit agama”)[1]. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa Ibn ‘Arabi merupakan salah seorang tokoh sufi yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam.




A.    Kehidupan  Ibnu ‘Arabi itu
Ibnu  ‘Arabi mempunyai nama  lengkap Muhiddin Abu Abdullah Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdullah Haitami Ath-Tha’i. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol pada tanggal  17 Ramadhan 560 H bertepatan dengan 28 Juli 1165 M dan meninggal tanggal 28 Robiul awal 638 H / 16 November 1240[2]. Ibn ‘Arabi tumbuh dalam lingkungan spiritual yang kental. Ini yang mendorongnya untuk belajar agama sejak usia  belia. Ia belajar ilmu fikih, hadis, qiraat, dan ilmu-ilmu lain dari para guru besar di zamannya.
Ayah Ibn ‘Arabi, ‘Ali, adalah pegawai Muhammad ibn Sa’id ibn Mardanisy, penguasa Murcia, Spanyol. Ketika Ibn ’Arabi berusia tujuh tahun, Murcia ditaklukkan oleh Dinasti al-Muwahiddun (al-Mohad) sehingga ’Ali membawa pergi keluarganya ke Sevilla[3]. Ibn ‘Arabi lahir tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan keluarga berilmu pengetahuan yang memadai. kasih sayang dan tunjuk ajar secara langsung  yang diterimanya dalam keluarga, telah menyemaikan benih-benih yang siap tumbuh dan berkembang. Dengan demikian secara non formal, keluarga terutama ayahnya telah memberikan dasar-dasar pendidikan pada beliau, yang siap untuk dikembangkan dan ditindak lanjuti lebih arif.
Ibn ‘Arabi memulai pendidikan dasarnya dengan memfokuskan pada bacaan
al-Qur'an dan ilmu qira’at. Pendidikan ini dijalani dengan tekun dan penuh semangat
serta diperoleh dari beberapa orang guru. Diantaranya adalah Abu Hasan bin Muhmmad al-Ra’ini dan Qasim Abd Rahman al-Qurtubi serta Abu Bakar Muhammad bin Khalaf al-Lakhmi[4]. Baginya belajar kepada beberapa orang guru adalah untuk memantapkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, sehingga melekat di dalam dada. Selain bidang tersebut beliau tidak lupa mempelajari hadits, fiqh bahkan sastra. Ilmu - ilmu ini juga diperoleh dari beberapa orang gurunya seperti Ibn Zaqrun, Abu al-Qasim Jamal al-Din al-Harsatani, Abu Muhamamd Abd al-Haq ‘Asyibili dan Abu Bakar Muhamad al-Jad.[5]
Pada masa mudanya Ibn ‘Arabi bekerja sebagai sekretaris Gubernur Sevilla dan menikahi seorang gadis bernama Maryam, yang berasal dari sebuah keluarga berpengaruh. Pada tahun 590[6], Ibn ’Arabi meninggalkan Spanyol untuk mengunjungi Tunisia. Tahun 597/1200, sebuah ilham spiritual memerintahkan dirinya untuk pergi ke timur. Dua tahun kemudian, ia melakukan ibadah haji ke Mekkah dan berkenalan dengan seorang syaikh dari Isfahan yang memiliki seorang putri. Pertemuan dengan perempuan ini mengilhami Ibn ’Arabi untuk menyusun Tarjumân al-Asywâq. Di Mekkah pula ia berjumpa dengan Majidudin Ishaq, seorang syaikh dari Malatya, yang kelak akan mempunyai seorang putra yang menjadi murid terbesar Ibn ’Arabi, Shadr al-Din al-Qunawi[7].
Selama beberapa tahun Ibn ‘Arabi melancong dari kota ke kota di Turki, Suriah, Mesir, serta kota suci Mekkah dan Madinah. Pada tahun 608, ia dikirim ke Bagdad oleh Sultan Kay Kaus I dari Konya dalam misi yuridis kekhalifahan, kemungkinan ditemani oleh Majidudin Ishaq. Kemudian ia bermukim di Aleppo dan Damaskus ( 609 – 612 H ). Serta sempat mensyarah kitab syair Tujuman al-Asywaq ke dalam pengertian mistik.[8] Ibn ’Arabi memiliki hubungan baik dengan sultan ini dan mengirimnya surat-surat berisi nasihat praktis. Dia pun merupakan sahabat dari penguasa Aleppo, Malik Zhahir putra Sultan Saladin al-Ayyubi.
Pada tahun 620/1233, Ibn ’Arabi menetap secara permanen di Damaskus, tempat sejumlah muridnya, termasuk al-Qunawi, menemaninya sampai akhir hayat. Menurut sejumlah sumber awal, ia menikah dengan janda Majd al-Din, ibu al-Qunawi. Selama periode tersebut, penguasa Damaskus dari Dinasti Ayyubiyah, Muzhaffar al-Din merupakan salah seorang muridnya. Dalam sebuah dokumen berharga yang bertahun 632/1234, Ibn ’Arabi menganugerahinya izin (ijazah) kepada al-Malik al-Asyraf Muzaffar al-Din Musa untuk mengajarkan semua karya-karyanya.[9] Ia pun menyebutkan tujuh puluh karya tersendiri dalam keilmuan tertentu, yang menunjukkan ketidaklengkapan informasi tersebut. Dari sumber tadi, jelas bahwa dalam upaya menyempurnakan studi tasawuf yang dilakukannya Ibn ’Arabi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari pengetahuan eksoteris seperti tujuh qira’ah al-Quran, tafsir, fikih, dan, terutama, hadis (Chittick dalam Nasr, 66)
Ibn ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 bertepatan tanggal 22 Rabiul Akhir 638 pada usia tujuh puluh tahun. Pencapaian spiritualnya yang luar biasa telah menyebar ke hampir seluruh Dunia Islam, dan bahkan Barat, hingga sekarang.
C.Karya-karya Ibn ‘Arabi
.Karya-karya penting Ibn ‘Arabi di antaranya adalah 1). Al-Futuhat al Makkiyyah, sebuah karya ensiklopedis yang merangkum kekayaan religius dan gnostik dalam Islam. Kitab ini merupakan karya terpenting dan utama Ibn ‘Arabi yang di dalamnya beliau menguraukan inti ajaran mistisismenya; 2). Fushus al-Hikam, kitab ini berupaya membahas tentang penyingkapan hikmah ketuhanan kepada para nabi; 3). Tarjumanul al-Asywaq, sebbuah buku kumpulan syair cinta spiritual.
Mengenai metode praktis yang harus diikuti para murid dan salik tarikat (thariqah), seperti al-Risalat al-Khalwah dan al-Washaya.
Syaikh al-Akbar juga menulis berbagai aspek al-Quran, termasuk simbolisme huruf-huruf, mengenai asma’ dan sifat Ilahiah, mengenai syariat dan hadis dan hampir semua yang berkaitan dengan urusan religius dan spiritual.
Secara kronologis, berikut ini adalah daftar karya-karya Ibn ‘Arabi.[10]
  1. Mashahid al-Asrar al-Qudsiyya (Written in Andalusia, 590/1194).
  2. Al-Tadbirat al-Ilahiyya ( Written in Andalusia.)
  3. Kitab Al-Isrâ’ Written in Fez, 594/1198.
  4. Mawaqi al-Nujûm Writen in Almeria, 595/1199.
  5. ‘Anqa` Mughrib Written in Andalusia, 595/1199.
  6. Insha’ al-Dawa’ir Written in Tunis, 598/1201.
  7. Mishkat al-Anwâr Written in Mecca, 599/1202/03.
  8. Hilyat al-Abdal Written in Taif, 599/1203.
  9. Rûh al-Quds  Written in Mecca, 600/1203.
  10. Taj al-Rasâil Written in Mecca, 600/1203.
  11. Kitab al-Alif, Kitab al-Ba’, Kitab al-Ya. Written in Yerusalem, 601/1204.
  12. Tanazzulat al-Mawsiliyyai Written in Mosul, 601/1205.
  13. Kitab al-Jalal wa al-Jamâl Written in Mosul, 601/1205.
  14. Kitab Kunh ma la budda lil murid minhu Mosul, 601/1205.
  15. Fusûs al-Hikam Damascus, 627/1229.
  16. al-Futûhât al-Makkiyya Mecca, 1202-1231 (629)

D.Pemikiran Ibnu Arabi
Konsep tasawwuf Ibnu Arabi dibangun atas dasar spiritual dan pencapaian Maqam terbaik mulai dari iman, Islam, dan Ihsan. Selain itu, menurut Ibnu Arabi, konsep kewalian merupakan hasil dari kedua tingkatan maqam yaitu maqam ihsan dan cinta yang sesuai dengan nash syariat. Tasawwuf adalah kumpulan akhlaq islami karena syariat tidak hanya mencakup dimensi lahir tapi juga batin. Tasawwuf mengajarkan rasa takut, pengharapan, dan ikhlas. Maka, barang siapa yang berhasil melewati tingkatan-tingkatan itu, mereka berhak atas tingkatan cinta. Selain itu, Ibnu Arabi berbicara tentang konsep ketuhanan, cinta, dan kewalian sesuai dengan nash al-Qur'an dan hadits atas prinsip ihsan, bebuat baik semata-mata untuk Allah.
Ajaran sentral Ibn Arabi adalah tentang wahdat Al-wujud (kesatuan wujud). Yaitu paham tentang keesaan wujud Allah dan alam, yang kemudian dapat disederhanakan rinciannya dalam tiga masalah pokok meliputi : Ketuhanan, alam dan manusia.[11] Wahdat Al-wujud untuk menyebut ajaran sentral Ibn ‘Arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdat Al-wujud
Menurut Ibnu Taimiyah, wahdat Al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurutnya orang yang berfaham ini mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib Al-wujud yang dimiliki oleh khaliq adalah juga adalah mumkin Al-wujud yang dimiliki oleh makhluk.[12]
a. Ajaran tentang Ketuhanan
Orang-orang yang mempunyai faham bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan,Tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan. Paham ini merupakan perluasan dari paham hulul dari Husen Ibnu Mansur al-Hallaj. Karena maksud yang ada dalam hulul diubah oleh Ibn ‘Arabi menjadi khalq (makhluk) dan lahut menjadi haq (tuhan). Aspek yang sebelah luar disebut khalq dan aspek sebelah dalam disebut haq. Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek. Aspek luar merupakan ard dan khalq yang mempunyai sifat kemakhlukan, dan aspek dalam merupakan jauhar dan haq yang mempunyai sifat Ketuhanan. Dalam kontek ini al-Haq adalah Allah, sang pencipta, Yang Esa, wujud dan wajib wujud. Sedangkan al-Khalaq adalah alam, makhluk, yang banyak.[13]  
Menurut Ibn ‘Arabi , wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan wujud khalik dan makhluk, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada dzat-Nya dari kesatuan dzatiyah, yang segala sesuatu berhimpun padan-Nya. Dengan kata lain, hakikat alam semesta ini mempunyai dua sisi : a. al-Haqq         ( Tuhan )Yang Esa, Qadim dan Awwal. b. al- Khalaq ( makhluk ) yang banyak, baru, lahir.[14]
Dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi adalah ketunggalan wujud atau wahdah al-wujud yaitu sebuah pandangan bahwa tak ada wujud yang sejati, yang mutlak, yang mencakup semua wujud, kecuali Allah Yang Maha Esa. Kemutlakan wujud Allah akan “menenggelamkan” wujud-wujud yang lain. Dengan logika ini, maka makna dari syahadat “La> ila>ha illalla>h” ialah bahwa saya bersaksi tiada sesuatupun yang memiliki wujud yang sejati kecuali Allah. Konsekuensinya, segalanya selain Allah, termasuk manusia dan dunia, tidak benar-benar ada. Artinya semuanya itu tidak berada secara terpisah dari, dan sepenuhnya bergantung pada, Allah. Yang selain Allah itu tampil sebagai wujud-wujud terpisah semata-mata hanya karena keterbatasan-keterbatasan persepsi manusia. Ibnu Arabi dalam menjelaskan “wujud yang bergantung” ini menggunakan istilah “bayangan” dalam sebuah cermin. Gambar dalam sebuah cermin meskipun “ada” dan “kelihatan”, bagaimanapun juga ia hanyalah “ilusi” atau “bayangan” dari aktor yang bercermin. Ketika Sang Aktor menggunakan ribuan cermin, maka bayangannya akan menjadi banyak, pada hal hakikatnya tetaplah Satu.
Konsep wahdatul wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang mempunyai wujud yang hakiki/mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun), tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuat-Nya berawal (karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah keniscayaan bagi keberadaan wujud wujud lain yang berawal. Alam semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak. Oleh para sufi segala wujud selain Allah itu disebut wujud al mukmin. Berbeda dengan Wujud Mutlak, wujud al mukmin ini adalah wujud yang berawal, artinya baru ada pada waktu awal tertentu. Misalnya alam semesta yang baru ada pada saat big bang, Oleh karena itu alam semesta ialah wujud al mukmin, karena keberadaannya diwujudkan (maujud) oleh Allah.
Harus dipahami bahwa paham Ibnu ‘Arabi ini tidak menyamakan segala sesuatu yang tampak sebagai bukan-Allah itu dengan Allah. Sebab jika kita misalnya mengatakan bahwa manusia adalah Allah dan Allah adalah manusia maka kita akan jelas-jelas terjebak ke dalam panteisme. Menurut Ibnu ‘Arabi keterbatasan persepsi manusia telah gagal untuk melihat kaitan integral antara keberadaan selain-Allah dengan keberadaan Allah sendiri.
Jelas ada perbedaan prinsipil antara wahdatul wujud dengan pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud makhluk, sedangkan wahdatul wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu terpisah dari wujud makhluk. Jadi bagi penganut pantheisme, wujud Tuhan itu tidak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan pantheisme ini adalah sesat.
Doktrin ketunggalan wujud Ibnu ‘Arabi bersifat monorealistik, yakni menegaskan ketunggalan yang ada dan mengada (tauhid wujudi). Teori wahdatul wujud menekankan pada unitas wujud yang hadir pada segala sesuatu yang disebut sebagai maujud. Tuhan berwujud, manusia berwujud, benda-benda mati berwujud. Apakah wujud setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru subsist-by other. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara wujud Tuhan dengan wujud selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa wujud itu satu, sementara di dunia realitas kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Bukankah keberadaan entitas si Ahmad berbeda dengan keberadaan entitas si Amir. Apalagi dibandingkan dengan entitas hewan, nabati, dan sebagainya.[15]
Menurut Ibnu ‘Arabi, tahap tertinggi yang bisa dicapai manusia adalah pengalaman langsung (dzauq). Berbeda denga Abu> Yazid dan al-Hallaj yang percaya bahwa tujuan tertinggi jiwa ialah penyatuan-diri (ittihad) dengan Tuhan. Ibnu ‘Arabi memandang pengalaman langsung sebagai tujuan tertingginya. Saat mencapai tahap tersebut, jiwa berarti telah mencapai kondisi peniadaan-diri (fana’). Dan pada saat itulah, ia akan mampu secara visual menyaksikan kesatuan segala sesuatu; kesatuan antara yang mencipta dengan yang dicipta, yang tampak dan yang tak-nampak, yang abadi dan yang binasa.
Selanjutnya perlu diperhatikan di sini adalah bahwa kesatuan metafisis Ibnu ‘Arabi sepenuhnya berbeda dengan “mistisisme uniter’ milik Abu Yazid dan Al-Hallaj yang ajaran keduanya cenderung bersifat personal dan eksistensial. Kesatuan yang diwacanakan oleh kedua sufi tersebut hanya mencakup kesatuan atau keserupaan antara sufi dan Tuhan—yang oleh literartur mistis sering disebut Sang Kekasih atau Kebanaran (al-Haqq).
b. Ajaran tentang Alam
Tentang ala mini, Ibnu ‘Arabi membedakannya dalam 4 macam yaitu :
a. Alam Jabarut.
    Tempat sabda Ilahi dan Daya rohani
b. Alam Mitsal.
    Tempat himmah dan doa-doa para wali
c. Alam Nasut
   Alam Manusia
d. Alam Malakut
yaitu alam Malaikat[16].

            Keempat macam  alam tersebut berasal dari apa yang disebut Ibnu ‘Arabi, yakni akal ilahi yang merupakan wadah bertajallinya Allah untuk pertama kalinya pada tingkat ahadiyah.
c. Ajaran tentang Manusia
            Manusia menurut Ibnu ‘Arabi tidak seluruhnya dapat menjadi tajalli Allah.[17] Hanya manusia yang sempurna ( insam Kamil )yang dapat menjadi tajalli Allah. Yaitu manusia yang telah mencapai tinggkat tertinggi dalam martabat kemanusiaanya, atau dalam dirinya terdapat nur Muhammad.[18]
D.Penyebab maraknya pemikiran Ibnu Arabi yang dianggap bertentangan.
Hal ini telah dibahas dalam buku beliau "Syarh Kalimat Shufiyah". Bahasannya panjang lebar yang tertuang di hampir 18 halaman tersendiri. Tiap baitnya beliau nukilkan  dari perkataan Ibnu Arabi. Hasilnya, tidak satupun nyang mendukung konsep Wihdatul Wujud (pengakuan beliau) sebagi mana yang dipahami golongan zindiq. Banyak terjemahan karya Ibnu Arabi yang salah dalam tidak selaras dengan teks aslinya, kerena dua kemungkinan, pertama kerena ketidaktahuan dan kedua faktor kesengajaan untuk memanipulasi pandapat-pendapat Ibnu Arabi




KESIMPULAN
1. Ibn Arabi berasal dari suku al-Taiy, satu rumpun Arab Al-Haitami yang pada umumnya terdiri dari keluarga-keluarga saleh.Dia memiliki nama lengkap muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah at-Tha’i Al-Haitami. Lahir di Murcia, andalusia tenggara Spanyol tahun 510 H.
2. Ibn Arabi adalah penulis yang produktif ,yang menurut Browne ada 500 judul karya tulis. Diantara hasil karya yang sangat monumental adalah al-Futuhat Al-Makiyyah dan Tarjuman Al-Asywaq
3. Ajaran Tasawufnya adalah tentang Wahdat Al-wujud , menurutnya semua yang ada ini adalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khalik pula.
4. Dalam hubungannya antara Tuhan dengan Alam, dia menjelaskan bahwa alam ini adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang hakiki. Alam tidak mempunyai wujud sebenarnya.
5. Ibn Arabi juga menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dilepaskan dari ajaran Hakikat Muhammadiyah atau Nur Muhammad.



Daftar Pustaka
Baqir, Haidar, Buku Saku Filsafat Islam, Penerbit Mizan, Bandung, 2004
Ensiklopedi Islam, Ichitar Baru Jakarta 2005
Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam mengenai Ibnu ‘Arabi yang ditulis William C. Chittick
Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, Bandung: Mizan
Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, (Penerbit Mizan, Bandung, 2004)
Kausar Azhari, IBNU AL-‘ARABI wahdat al-wujud Dalam Perdepatan, Paramadina Jakarta 1995
Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, Bandung: Mizan
Nasr, Seyyed Hossein dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam.
Noer Iskandar Al-Barsany, Tasawuf Tarekat Dan Para Sufi, Srigunting Jakarta 2001
Nurasiah Faqihsultan, Meraih HakikatbMelalui Syariat, Mizan Pustaka Bandung 2005
Oxford New York, University Press 1995,









[1] Kausar Azhari, Ibnu aL-‘Arabi  wahdat al-Wujud Dalam Perdepatan, ( Paramadina Jakarta 1995), hal 17
[2]  M. Armando,Ensiklopedi Islam,( Jakarta Ichtiar Baru Van Hoeve 2005), 66
[3] Nurasiah Faqihsultan, Meraih HakikatbMelalui Syariat (Bandung Mizan Pustaka 2005 ), 30
[4] Oxford New York, ( University Press 1995), 160
[5] Nurasiah Faqihsultan, 36
[6] Noer Iskandar al-Barsany, Tasawuf Tarekat Dan Para Sufi, (Jakarta : Srigunting 2001), 155
[7] Ensiklopedi Islam, hal 67
[8] Ibid, hal 67
[9] Kautsar Azhari Noer, 24
[10] Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam mengenai Ibnu ‘Arabi yang ditulis William C. Chittick hal. 617-618
Buku Saku Filsafat Islam, hal. 150-151

[11] Noer Iskandar, Tasawuf Tarekat Dan Para Sufi, Srigunting Jakarta 2001, hal 157
[12] Kausar Azhari Noer, hal 43
[13] Ibid, hal 46
[14] Noer Iskandar, hal 161
[15] HTTP : //AMOLI. WORDPRESS.COM/2010

[16] Ibid, hal 163
[17] Ibid, hal 165
[18] Dwi Sukarya, KonsepnIbn ‘Arabi Tentang Kenabian Dan Aulia,Grafindo Jakarta 1990, hal206